topbella

Jumat, 04 Maret 2011

Black Forest

Bahan:

8 bt telur (ukuran sedang)
60 gr coklat bubuk
40 gr maizena
100 gr terigu protein rendah/sedang
1 sdm emulsifier (=15 gr)
100 gr mentega, lelehkan
200 gr gula pasir
1/4 sdt vanili

500 gr krim kocok/butter cream
100 gr Dark Cooking Chocolate (DCC)
10 buah cherry merah
1 kaleng cherry hitam, saring, pisahkan airnya >>> gak pake

Cara membuat:

   1. Campur terigu, coklat bubuk dan maizena, aduk rata.
   2. Kocok telur, gula dan emulsifier hingga mengembang dan kental (10-15 menit, sampai jambul petruk).
   3. Masukkan campuran tepung sambil diayak, aduk hingga tercampur rata. Masukkan mentega leleh, aduk rata.
   4. Tuang dalam 3 buah loyang ukuran 22x22x4cm, oven hingga matang (180 C, 20¡V25 menit).       >>> pake 1 loyang aja terus dibelah jadi 3 bagian
   5. Dinginkan, basahi dengan air cherry hitam. Letakkan satu lapis cake, oles dengan krim kocok atau butter cream, lalu atur belahan cherry hitam di atasnya. Tumpuk diatasnya lapisan kedua, oles dan beri cherry hitam lagi, tumpuk lagi dengan lapisan teratas. Setiap lapisan jangan lupa dibasahi dengan air cherry hitam. >>> pakenya simple syrup, fillingnya pake selai blueberry
   6. Rapikan, oles seluruh cake dengan krim kocok atau butter cream,  Semprotkan butter cream, hias dengan cherry merah.

We Are One, We Are Together

           Hari hari yang kulalui sekarang, penuh dengan keramaian, kekocakan dan keunikan. Banyak hal yang menuntut kreatifitas dalam mengajar, ketekunan dalam mendidik ataupun mengolah kata menjadi lebih segar dan mudah dimengerti. Kuperhatikan mereka , murid murid perempuan yang cenderung patuh dan menurut. No problem, tidak memerlukan daya dan usaha yang besar untuk mengolah atau membentuk mereka, hanya perlu program dan pembentukan jiwa yang cocok. Kualihkan pandanganku ke murid laki-laki, saat itu pula aku hanya bisa geleng geleng. This is it, ini yang harus kukerjakan sekarang, need more reference to find out the key. Mereka unik, mereka berbeda, mereka mengekspresikan perasaan mereka tidak dengan kata kata , tetapi dengan sikap mereka, dan itupun setiap anak memiliki ekspresi yang berbeda beda  dan luar biasa sikapnya. Kucoba lebih dekat dan berusaha mencari jawaban. Saat suatu pagi seorang guru, memberikan buku raising boys, psikologi yang  membahas tentang kondisi jiwa seorang laki laki dari lahir sampai dewasa. 

Subhanallah, aku menemukan sesuatu yang sama sekali tidak kusadari selama ini. Here we are, aku memulai semuanya dengan meneliti kehidupan masing masing murid muridku yang luar biasa unik. Dan perlahan aku menemukan sedikit demi sedikit jawaban untuk mereka. Kehidupan di lingkungan rumah dan kehidupan didalam rumah. Sehari hari kulalui dengan duduk duduk bersama mereka, kadang bermain basket, kadang makan bersama dikantin. Setidaknya aku ingin lebih dekat dengan mereka, chemistry yang ingin kudapatkan dan pada akhirnya kudapatkan. Rasa gembira dan rasa sedih yang mencuat dari hatiku. Saat setiap pagi ada saja laporan dari guru guru yang menyatakan masih ada murid yang bermasalah dari kelasku, aku tersenyum. Yahhh, ini ‘’resiko’’ nya, aku sudah faham alasan dan keadaan, dan aku hadir sebagai pembela mereka, bukan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan, tetapi untuk meminta kesempatan untuk menasehati mereka.

“Seorang anak lelaki pun selain perlu diberi kebebasan untuk bertindak dengan lingkungan mereka, mereka juga butuh kasih sayang layaknya seperti yang didapatkan oleh seorang anak perempuan. Hanya saja rasa enggan dari diri mereka untuk menampakkan bahwa mereka membutuhkan kasih sayang itu, karena mereka ingin dianggap sebagai pahlawan yang selalu kuat. Anakku, kuperhatikan tatapan itu, dan aku faham. Pahlawan itu juga HARUS memiliki perasaan, ia juga membutuhkan kasih sayang” . Darimana kudapatkan kata kata itu untuk membela mereka didepan guru guru lainnya, “Jangan perlakukan mereka dengan kasar, mereka masih memiliki perasaan, dan sentuh perasaan itu dengan kelembutan” .


The Decision

Subhanallah, bisa dibayangkan suatu kelas dengan murid murid yang luar biasa. Bukan luar biasa dengan prestasi atau apapun, tapi keluarbiasaan sikap mereka yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang guru manapun. Karakter yang unik dan berbagai sikap yang membuat guru banyak geleng geleng kepala. Ada saja hal hal yang terkadang buat tertawa , tapi ada juga hal hal yang memusingkan. Karakter karakter unik itu selalu bisa membuatku tertawa saat mengingat mereka. 

Murid “Dunia Lain” :  Pinter, kocak, wawasan luas terutama tentang dunia maya, Saking asyiknya dengan dunia mayanya, ia memiliki dunia lain dalam khayalannya. Bayangkan saja , saat sedang belajar matematika, dan guru sedang menjelaskan, aku pernah memergokinya. Ia memegang buku,menegakkannya lalu  mengibaratkan buku itu pistol , doooorr dooorrrr . Spontan aku tertawa. Di kesempatan lain, saat temennya meminjam stipo , dia pun melemparnya dengan gerakan seolah olah melempar bom. Ckckckckc...Berat khayalannya.

Murid “PAUD”   : Sebenarnya pinter, tapi terlalu banyak bicara dan bergerak. Aku tidak menghalanginya, tapi hiper aktif, selalu bergerak. Dalam waktu setengah jam, senang loncat loncat. Tapi yang kusalutkan , dia pernah buat komitmen padaku, saat ia melihat nilai sementaranya drop , “ibu, lihat ya saya pasti bisa dapat A,””, saat itu nilainya D, hahahah. Dan terbukti, walaupun dia main-main, tapi saat aku sedang serius dia pun serius, ,, great

Murid “LEADER” : Sosok kepemimpinannya bagus, luar biasa. Mampu menenangkan kondisi kelas jika keributan sudah menyebar ke seluruh penjuru kelas. Tetapi , WARNING, GAWAT, kalau dia sampai bosan saat pelajaran. Dia akan pergi ke gua-nya (  Kolong meja ) , Bermain laptop , bagus juga kalau dia main diatas meja, pasti akan dilarang guru. Akhirnya dia bermain laptop dikolong meja, sehingga terlihat dia tidak berada dikelas, ckckckckckckck, kalau aku mengecek kelas  saat sedang bukan jam pelajaranku, dan melihatnya tidak ada dibangku, tidak perlu kelelahan untuk mencari keberadaannya, cukup jongkok dan melihat kondisi bawah meja, dan taraaa!!!!!!!!! Dia disana sambil mengatakan “peacee, bu ai “”, hahahahahahah

Murid “RESIKO” : Pinter , cerdas, kritis ( terlalu kritis ) . Kata kata ini tidak pernah lepas darinya. Saat dia dihukum pun , dia bisa menerima dengan lapang dada, dan mengatakan untuk dirinya sendiri, “resiko”, huffffhhhh

Dan banyak hal lainnya, terbayangkan pula dalam seminggu ada saja kasus kasus yang tercipta dari kelas mereka , baik dari guru ataupun murid. Wajar saja salam sebulan, wali kelas diganti tiga kali, karena beberapa dari mereka tidak sanggup menghadapi mereka yang sangat luar biasa. Kuakui, sangat luar biasa. Keputusan itu pun dibuat, aku ditunjuk menjadi wali kelas mereka, aku menolak, biasanya wali kelas hanya dipegang oleh guru guru senior, tapi kepala sekolah bertindak lebih tegas, semua guru akan kena giliran, mencari yang cocok menghadapi kegilaan, keunikan dan kehebohan mereka.  Hidup baru pun dimulai, mereka dan guru “ada-ada aja” mereka .

Ternyata untuk memasuki suatu lingkungan yang luar biasa, kita tidak perlu merubah lingkungan itu.  
Awalnya, “Biarkan kita memasuki dunia mereka, setelah kita masuk, ajak mereka ke dunia kita”. 
Itu yang kulakukan, saat aku harus heboh bersama mereka aku heboh, saat kondisi sudah click, time for me, boys “ ^_^

Sound Effect

Geografi, sejarah , mungkin bagi sebagian orang pelajaran yang membosankan. Tapi bisa saja menjadi sangat menyenangkan jika dirangkaikan pada sepenggelan cerita yang dibawa dengan khayalan. Hmmm...tapi tidak menurut mereka, murid muridku. Kebosanan mereka dengan teori teori membuat mereka jenuh dan pada akhirnya mereka membuat kesalahan fatal, bolos. Bukan satu atau dua, tetapi 10 orang, great!!!. Panas terik dan rasa kecewa kepada mereka menjadi satu, aku pun menunggu mereka didepan pagar sekolah selama 1 jam penuh, menanti kepulangan mereka tepatnya. Menit demi menit kulalui, selang setengah jam seorang murid yang bolos kembali, tapi tidak kupersilahkan masuk, aku menyuruhnya kembali, “kalian pergi bersama, dan HARUS pulang bersama,”ujarku tanpa ekspresi. Kembali aku menunggu, dan mereka pun kembali. Ooopss lupa, akhir akhir ini aku suka dengan penggaris besi, karena saat digoyangkan dengan kekuatan dan kecepatan yang tepat akan menghasilkan soud effect angin. Hehehe, iseng aja , kalau lagi bosan aku selalu menggoyangkannya. 

Dan itupun aku lakukan saat menunggu mereka. Mereka kembali, dalam diam aku perhatikan mereka , hanya diam dan tanpa ekspresi . “Beri ibu penjelasan”. Awalnya mereka hanya tertunduk, mudah mudahan tundukan itu menyatakan rasa bersalah mereka, bukan takut pada apa yang akan aku berikan  pada mereka nantinya, dan sound effect penggaris besi itu pun terdengar jelas saat mereka semua terdiam. Salah seorang dari mereka akhirnya menyeletuk dan menjelaskan alasan mereka, lalu satu persatu menyahut, akhirnya saling menyelahkan ,saling menuduh, ku dengarkan mereka sampai selesai. Kaki seorang murid ternyata terkena paku, berdarah , itu salah satu alasan mereka kenapa sampai selama itu. “tahu, kenapa sampai ada kejadian seperti itu, itu peringatan. Peringatan kalau yang kalian lakukan sekarang salah”. Terdiam lagi. Ku ubah raut mukaku, menjadi lebih tenang, kupandangi mereka satu persatu dengan lembut, 

“Kalian tahu, ibu sayang kalian, itu sebabnya ibu selalu ingin tahu keadaan kalian. Selalu, saat mengetahui kalian bolos, pertama yang ibu rasakan bukan marah tetapi risau, gelisah, kemana kalian , bagaimana kalau ada apa apa dengan kalian diluar sana, faham yang ibu rasakan apa??ibu takut kalian kenapa-kenapa", ujarku dengan lembut, disambung dengan intonasi yang tegas dan agak menekankan suaraku. Hanya sedikit lebih keras, “TAPI IBU TIDAK SUKA KALIAN BERTINDAK SEPERTI INI, itu artinya kalian tidak menghargai guru yang berada didalam kelas" . 

“Bosan bu”, celetuk mereka. “Lantas, kenapa kalian harus bolos seperti ini, kenapa kalian tidak mndiskusikannya seperti biasa yang kita lakukan saat pelajaran matematika, kita selalu mendiskusikan bagaimana kita belajar, mau di kelas, mau diluar, yang penting kita sama sama senang, dan mencapai target kita”. Sedari tadi mata mereka tertuju pada penggaris besi yang aku goyangkan dengan keras. “Kalian pantas dihukum khan?, ujarku sambil tersenyum “, “iyaa”, jawab mereka. Dan akhirnya kembali tanpa ekspresi, aku berikan hukuman itu pada mereka dipanas terik , bukan dengan penggaris besi, hukuman yang lain yang lebih pantas, aku mengawasi mereka sampai mereka berada didepan kelas, lalu salah seorang dari mereka menyerahkan tangan mereka, “ibu, kalau  ibu mau pukul saya , pukul aja , “ dalam hati aku tertawa, “siapa yang mau mukul ?”, “itu”, katanya sambil menujuk penggaris besi yang masih saja aku goyangkan. “Loh, ibu Cuma mau menggoyangkan aja kok, biar rada rada serem tadi, ada sound effect. Buktinya kalian udah ketakutan gitu tadi”.Jawabku sambil tertawa iseng. “Hufffh , ibu ni dari tadi buat kami bingung lah, kadang nada suara lembut, tiba-tiba keras, kadang liatin kami lembut, kadang tanpa ekspresi, sekarang kirain mau dipukul rupanya sound effect”. Aku tersnyum , “ingat apa yang ibu katakan tadi, itu cukup”.

Ada hal yang kupelajari dari kejadian ini, mengontrol emosi . Yah bisa saja kejadian , aku akan sangat marah kepada mereka, tapi kemarahan itu nantinya akan berefek negatif dan mmbuahkan kekerasan fisik yang sangat kuyakin, bukan hanya menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan kesalahan baru. Saat menunggu mereka , aku pun menenangkan hatiku, aku akan menyampaikan kekecewaan ini dengan keterbalikan situasi, menyatakan kalau aku sayang kepada mereka, dan menegaskan aku tidak suka dengan kelakuan mereka. Kuharap intonasi suara yang tiba tiba berubah itu memberikan aksen, bahwa kaliamat itu harus mereka camkan dalam hati dan fikiran mereka. Kendalikan emosimu, lalu beristighfarlah ...

Tell Me, What Is It

Kumulai cerita ini dengan apa yang kufikirkan untuk membuat mereka sadar. Siapa mereka?. Murid muridku. Hal baru dan hal yang tersulit yang kudapatkan akhir akhir ini, sebuah fase dalam hidup, yang menuntut kreatifitasku dalam mengekspresikan “kemarahanku”. Bukan dengan fisik, bukan dengan mental, tapi menjadikan keduanya sehingga bertumpu pada satu titik, KESADARAN.

Seperti biasa, sholat zuhur selalu kami laksanakan secara berjamaah. Itupun setelah terjadi insiden kejar kejaran dan petak umpet yang berlangsung selama 20 menit . Hufffhhh....sepandai-pandainya guru, masih lebih pandai murid-murid dengan keusilan mereka. Sholat selesai, aksi dimulai.
Ibu         : “Boleh bentuk lingkaran, ibu mau ngasih tausyiah dikit?”. Patuh, selalu patuh saat mereka selesai sholat. "Sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar". Selepas itu tidak ada yang menjamin mereka bisa patuh kembali. Sebut saja namanya arif, “Hmmmm, arief , kalau boleh tau ini apa ya ? ( aku bertanya sambil memegang pulpen )
Arif : “pulpen bu”
Ibu : "yakin???"
Arif : "Yakinnn laaahhh"
Aku pun tersenyum. Lalu kuajak bercanda dengan cerita cerita lainnya. Selang 2 menit kuulangi pertanyaan kepada orang yang sama, “arief, ini apa ya?””tanyaku lagi sambil memegang  benda yang sama.
Arief: "pulpen buuuuu"
Aku tersenyum manis lagi , ( hahahaha,,asli manis lho ). Kulanjutkan lagi dengan cerita cerita yang lain , selang 1 menit kemudian kutanyakan hal yang sama. Hal itu kulakukan 7 kali, sampai terakhir kalinya aku bertanya lagi, “arief, ini apa ya ?””
Arief : "ibu ni lah, dah kita bilang itu pulpen ditanya lagi. Capek saya , pulpen tu buk,ibu ni pura pura ndak tau lah"
Murid murid laen pun tertawa. “Kenapa bu??, lupa ya". Aku pun tertawa, “iya lupa ibu”.  Lalu sejenak aku mengatakan pada mereka, pelan, “Bosan ya mengulang kata-kata yang sama, itu -itu aja. Padahal ibu memang sudah tau sih ini pulpen.^_^ , Sekarang gini deh , ada perasaan kesal ndak, kalian berkali-kali mengulang kata-kata yang sama, padahal kalian tau itu benar””
Arief : "bosan lah bu, ibu pun , udah tau itu betol, cam salah aja, kayak itu bukan pulpen."
Aku pun tertawa lagi, nah sekarang bayangin yah, “Bagaimana kalau kita review, setiap hari ada guru pemantau, liat keterlambatan kalian, lalu bilang, “besok jangan terlambat lagi yah”, tapi kalian tetep terlambat. Trus ada guru kesiswaan , liat baju ndak rapi, keluar keluar, lalu diingatkan kembali, "besok yang rapi ya”, keributan kalian dikelas dan guru coba menenangkan. Kira kira berapa kali mereka harus mengulang kalimat yang sama, dalam sekali pertemuan, dalam sebulan, dalam satu semester, dalam setahun, apa mereka bosan?
Mereka pun terdiam. Entah karena perintaku untuk menghitung atau karena mereka paham kusampaikan.”Faham apa yang ibu maksud?”. 

"Hargai seorang guru, yang kami berikan murni untuk kebaikan, berbagi kepada kalian, bukan untuk mencelakakan kalian. Yakin, guru itu bukan hanya karena ingin disiplin lalu menasehati kalian, tetapi karena mereka sayang kalian, itulah yang membuat mereka tidak pernah bosan”. Hargai dan hormati, itu intinya . Suasana pun senyap padahal tidak ada intonasi suara yang keras, hanya suara yang lembut bersamaan semilir angin diluar musholla.

Aku pun beranjak bangkit, ok kita sudahi . Salah seorang dari mereka menyeletuk, “lho?kapan tausyiahnya bu?”. Hahahaha, “tausyiah khan ndak musti ceramah, diiringi penggalan hadits atau syair syair sufi khan, melalui pulpen juga bisa, “jawabku sambil tersenyum dan pergi. “Ibu ni ada ada aja”.

Hanya berbagi kepada mereka, untuk lebih memaknai kehidupan di sekolah . 

Dik Triesna

Foto Saya
Dik Triesna
"Allah Tetapkan Apa Yang Terbaik Bagi HambaNya dan Akan Indah Pada Saatnya, Bersabarlah..."
Lihat profil lengkapku